June 29, 2017

Panggilan Keluarga Dan Kerabat Suku Melayu Belitung

Belitung
Belitung

A : "Tante Ute, Tante Ute, usah balik ye? beranjuk di sinek sajak."
B : "Aok la."

(terjemahan dalam bahasa Indonesia)

A : "Tante Ute, Tante Ute, jangan pulang ya? menginap di sini saja."
B : "Iya deh (Baiklah)."

Penggalan dialog di atas adalah percakapan singkat antara Aku dengan salah satu anak dari sepupuku ketika aku berkunjung ke kediamannya beberapa waktu yang lalu. Percakapan kami tersebut menggunakan bahasa daerah Belitung yang dikategorikan ke dalam bahasa Melayu Belitung.

Nah, pada dialog tersebut Aku oleh anak dari sepupuku dipanggil dengan sebutan 'Tante Ute'. Kenapa 'Tante Ute' bukan 'Tante Rika'? Dan kalau ditelusuri dari nama lengkapku juga tidak ada unsur pembentuk nama 'Ute'. Hmm, lantas dari mana nama 'Ute' tersebut berasal? Hohohoho.

Jadi begini, menurut informasi yang kuperoleh dari Si Mbok (Ibuku), di dalam keluarga dan kekerabatan suku Melayu Belitung apabila ada orang yang usianya lebih muda atau yang secara hierarki silsilah lebih rendah, maka sangat anti, pantang dan dilarang untuk memanggil nama kepada orang yang usianya lebih tua atau yang hierarki silsilahnya lebih tinggi. Alasannya sih karena takut tulah atau kualat.

Sebagai contoh, anak dari sepupuku tersebut memanggil dengan nama-nama di bawah ini kepada anggota keluargaku.
  • Mak Long, untuk panggilan kepada Mbak Mila.
  • Om Anjang, untuk panggilan kepada Mamasku.
  • Tante Ute, untuk panggilan kepadaku.
  • Om Busu, untuk panggilan kepada Si Bungsu.
Nah, tidak ada panggilan yang mengandung unsur nama asli orang yang bersangkutan tho?

Sedikit penjelasan, Mbak Mila dipanggil 'Mak Long' karena statusnya adalah anak sulung atau anak tertua dan perempuan. Sementara apabila laki-laki dipanggil dengan sebutan 'Pak Long'. Kata 'Long' terbentuk dari kata 'Sulung' yang berubah bunyi menjadi 'Sulong' dan kemudian dipersingkat menjadi 'Long', supaya mudah dalam penyebutannya.

Kemudian Mamasku dipanggil dengan sebutan 'Om Anjang'. Hmm, sebetulnya panggilan ini sudah dalam bentuk modifikasi, sementara bentuk aslinya adalah 'Pak Anjang'. Panggilan ini tidak terbentuk dari urutan anggota keluarga atau urutan anak ke berapa, tetapi terbentuk dari ciri fisik orang yang bersangkutan. Kata 'Om' berasal dari kata 'Pak' yang artinya adalah laki-laki. Sementara kata 'Anjang' berasal dari kata 'Panjang', dikarenakan ciri fisik Mamasku yang berbadan tinggi dan besar.

Lalu Aku dipanggil dengan sebutan 'Tante Ute'. Sama seperti kasus Mamasku, panggilan ini sudah mengalami modifikasi yang bentuk awalnya adalah 'Mak Ute'. Dan juga terbentuk bukan karena urutan keluarga atau anak nomor berapa, tetapi ciri fisik, lebih tepatnya ke warna kulit. kata 'Ute' terbentuk dari kata 'Pute' yang artinya adalah 'Putih'. Nah, apabila di dalam kekerabatan orang Melayu Belitung anda dipanggil dengan sebutan 'Ute', 'Kak Ute', 'Mak Ute', 'Tante Ute' atau 'Nek Ute', itu artinya dan bisa dipastikan kulit anda berwarna putih. ^,^

Kemudian Si Bungsu di panggil dengan sebutan 'Om Busu'. Hmm, sudah jelas lah ya, kata 'Busu' tersebut terbentuk dari kata 'Bungsu' yang artinya anak bungsu atau anak terakhir. Ini kasusnya sama seperti panggilan 'Mak Long' kepada Mbak Mila yang terbentuk dari urutan anggota keluarga atau anak nomor berapa.

Hierarki silsilah:
  • Buyut
  • Datuk
  • Kakik - Ninek
  • Bapak - Umak
  • Kite (*)
  • Kulup - Dayang (Anak)
  • Cucu
  • Cicit

Panggilan berdasarkan urutan anggota keluarga:
  • Long atau We  =  Anak tertua, sulung.
  • Nga  =  Anak tengah.
  • Cik  =  Anak di antara anak sulung dan anak bungsu, di bawah anak tengah.
  • Busu  =  Anak terakhir, bungsu.
  • Unggal  =  Anak tunggal atau anak satu-satunya.

Panggilan berdasarkan ciri fisik:
  • Anjang  =  Berbadan panjang, tinggi.
  • Andak  =  Berbadan pendek.
  • Ute  =  Berkulit putih.
  • Itam atau Keling  =  Berkulit gelap (hitam).
  • Mok  =  Berbadan gemuk.

No comments:

Post a Comment