September 22, 2015

Teori Belajar Dan Pembelajaran (3.2)

Teori-Teori Belajar Dan Penerapannya

B. Teori Belajar Behavioristik

Berdasarkan teori belajar behavioristik atau aliran tingkah laku, belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan lingkungan. Beberapa orang ilmuwan yang termasuk pendiri sekaligus penganut behavioristik antara lain adalah Pavlov, Guthrie, Watson, Skinner, Thorndike, dan Hull.

Ivan P. Pavlov

Teori conditioning ini mula-mulanya dikembangkan oleh Ivan P. Pavlov (1927) dengan melakukan percobaan terhadap anjing. Pada saat seekor anjing diberi makanan dan lampu, maka keluarlah respon anjing itu berupa keluarnya air liur. Demikian pula jika dalam pemberian makanan tersebut disertai dengan bel, maka air liur anjing juga akan keluar. Setelah berkali-kali dilakukan perlakuan serupa, maka pada saat hanya bel atau lampu yang diberikan, anjing tersebut juga akan mengeluarkan air liur.

Makanan yang diberikan oleh Pavlov disebut perangsang tak bersyarat (unconditional stimulus), sementara bel atau lampu yang menyertainya disebut sebagai perangsang bersyarat (conditioned stimulus). Terhadap perangsang tak bersyarat yang disertai dengan perangsang bersyarat tersebut, anjung memberikan respon berupa keluarnya air liur (unconditional response).

Selanjutnya ketika perangsang bersyarat (bel/lampu) diberikan tanpa perangsang tak bersyarat (makanan), ternyata dapat menimbulkan respon yang sama, yaitu keluarnya air liur (conditioned response). Oleh karena itu teori Pavlov ini dikenal dengan 'responded conditioning'. Menurut Pavlov, pengkondisian yang dilakukan pada anjing tersebut dapat juga berlaku pada manusia.

Teori conditioning Pavlov ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Makanan (US)  +  bel/lampu (CS)  --->  air liur (UR) dilakukan berulang-ulang

Bel/lampu (CS)  --->  air liur (CR)


Edwin Guthrie

Teori conditioning dari Pavlov ini kemudian dikembangkan lagi oleh Guthrie (1935, 1942). Ia berpendapat bahwa tingkah laku manusia dapat diubah menjadi buruk atau sebaliknya, tingkah laku buruk dapat diubah menjadi tingkah laku baik. Teori Guthrie ini berdasarkan atas model penggantian satu stimulus ke stimulus yang lain. Respon atas suatu situasi cenderung diulang, bilamana individu menghadapi situasi yang sama. Itulah yang disebut asosiasi.

Menurut Guthrie stimulus tidak harus berbentuk kebutuhan biologis, karena hubungan antara stimulus dan respon cenderung bersifat sementara. Oleh karena itu diperlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan itu menjadi lebih langgeng. Suatu respon akan lebih kuat dan menjadi kebiasaan bila respon tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus. Setiap situasi belajar merupakan gabungan stimulus dan respon. Asosiasi tersebut bisa jadi benar, namun bisa juga salah.

Guthrie termasuk yang mempercayai bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar, sebab jika diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan seseorang. Ada beberapa metode pengubahan tingkah laku yang dikemukakannya, yaitu:
  1. Metode respon bertentangan. Misalnya jika siswa takut dengan sesuatu, contohnya takut dengan kucing, maka letakkanlah permainan yang ia sukai dekat dengan kucing. Dengan mendekatkan permainan dengan kucing, lambat laun siswa akan tidak takut lagi pada kucing, namun hal ini harus dilakukan berulang-ulang.
  2. Metode membosankan. Misalnya seorang siswa mencoba-coba menghisap rokok, minta kepadanya untuk merokok terus sampai bosan, maka dia akan berhenti merokok dengan sendirinya.
  3. Metode mengubah lingkungan. Bila seorang siswa bosan belajar, ubahlah lingkungan belajarnya dengan suasana lain yang lebih nyaman dan menyenangkan sehingga membuat ia betah belajar.

John Watson

Teori conditioning ini lebih lanjut dikembangkan oleh Watson (1970). Setelah mengadakan serangkaian eksperimen ia menyimpulkan bahwa pengubahan tingkah laku dapat dilakukan melalui latihan atau membiasakan mereaksi terhadap stimulus-stimulus yang diterima.

Menurut Watson, stimulus dan respon tersebut harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observable). Dia mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tak perlu diketahui. Menurutnya faktor-faktor yang tidak teramati tersebut tidak dapat menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau tidak bisa diukur, meskipun tetap mengakui bahwa semua hal itu penting.

Dengan hal yang dapat diamati, menurutnya akan dapat meramalkan perubahan apa yang akan terjadi pada siswa dan hanya dengan cara demikianlah psikologi dan ilmu tentang belajar dapat disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain, seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik.


Skinner

Kemudian Skinner mengembangkan teori conditioning ini dengan menggunakan tikus sebagai percobaannya. Menurut Skinner suatu respon sesungguhnya juga menghasilkan sejumlah konsekuensi yang nantinya akan mempengaruhi tingkah laku manusia.

Untuk memahami tingkah laku siswa secara tuntas perlu memahami hubungan antara satu stimulus dengan stimulus lainnya dan memahami respon itu sendiri serta berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respon itu sendiri serta berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respon tersebut.

Skinner juga mengemukakan bahwa menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi bertambah rumit, sebab alat itu akhirnya juga harus dijelaskan lagi.

Dari hasil percobaannya, Skinner membedakan respon menjadi dua, yaitu (1) respon yang timbul dari stimulus tertentu, dan (2) operant (instrumental) respon yang timbul dan berkembang karena diikuti oleh perangsang tertentu. Teori Skinner dikenal dengan ‘operant conditioning’ dengan enam konsepnya, yaitu:
  1. Penguatan positif dan negatif.
  2. Shaping, proses pembentukan tingkah laku yang makin mendekati tingkah laku yang diharapkan.
  3. Pendekatan suksesif, proses pembentukan tingkah laku yang menggunakan penguatan pada saat yang tepat, sehingga respon sesuai dengan yang diisyaratkan.
  4. Extinction, proses penghentian kegiatan sebagai akibat dari ditiadakannya penguatan.
  5. Chaining of response, respons dan stimulus yang berangkaian satu sama lain.
  6. Jadwal penguatan variasi pemberian penguatan rasio tetap dan bervariasi, interval tetap dan bervariasi.

Ternyata Skinner lebih percaya pada ‘penguat negatif’ (negative reinforcement) yang tidak sama dengan hukuman. Bedanya dengan hukuman adalah jika hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang timbul berbeda dengan yang diberikan sebelumnya, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) agar dikurangi agar respon yang sama menjadi kuat.

Contohnya, seorang siswa perlu dihukum untuk suatu kesalahan yang dibuatnya, jika dia masih bandel, maka hukuman harus ditambah. Tetapi jika siswa membuat kesalahan dan dilakukan pengurangan terhadap sesuatu yang mengenakkan baginya (bukan malah ditambah), maka pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya. Inilah yang disebut penguat negatif.


Edward Thorndike

Thorndike mengemukakan bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, dan/atau gerakan) dan respon (yang juga dapat berbentuk pikiran, perasaan, atau gerakan). Dari pengertian tersebut, wujud tingkah laku tersebut bisa saja dapat diamati ataupun tidak dapat diamati. Teori belajar Thorndike juga disebut sebagai aliran ‘connectionism’.

Menurut Thorndike bahwa belajar itu dapat dilakukan dengan mencoba-coba (trial and error). Mencoba-coba dilakukan kalau seseorang tidak tahu bagaimana harus memberikan respon atas sesuatu, kemungkinan akan ditemukan respon yang tepat berkaitan dengan masalah yang dihadapinya.

Karakteristik belajar trial and error adalah sebagai berikut:
  1. Adanya motif pada diri seseorang yang mendorong untuk melakukan sesuatu.
  2. Seseorang berusaha melakukan berbagai macam respon dalam rangka memenuhi motif-motifnya.
  3. Respon-respon yang dirasakan tidak bersesuaian dengan motifnya dihilangkan.
  4. Akhirnya seseorang mendapatkan jenis respon yang paling tepat.

Thorndike juga mengemukakan adanya beberapa hukum tentang belajar, yaitu:
  1. Hukum kesiapan (Law of readiness), jika seseorang siap melakukan sesuatu, maka ketika ia melakukannya ia akan puas. Sebaliknya, jika ia tidak jadi melakukannya, maka ia tidak akan puas. Contoh: siswa yang siap ujian, ketika dilakukan ujian, maka ia akan puas, akan tetapi jika ujiannya ditunda, ia akan menjadi tidak puas.
  2. Hukum latihan (Law of exercise), jika respon terhadap stimulus diulang-ulang, maka akan memperkuat hubungan antara respon dengan stimulus. Sebaliknya, bila respon tidak digunakan, hubungan dengan stimulus semakin lemah. Contoh: siswa yang belajar Bahasa Inggris, maka ia akan semakin terampil dalam berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Inggris. Akan tetapi, jika tidak digunakan, maka ia tidak akan terampil berkomunikasi dengan Bahasa Inggris.
  3. Hukum akibat (Law of effect), jika hubungan antara respon dan stimulus menimbulkan kepuasan, maka tingkatan penguatannya semakin besar. Sebaliknya, jika hubungan respon dan stimulus menimbulkan ketidakpuasan, maka tingkatan penguatannya semakin lemah. Contoh: siswa yang mendapat nilai tinggi akan menyukai pelajaran, namun jika perolehan nilainya rendah, maka siswa itu akan semakin malas belajar atau malah menghindari pelajaran.


Clark Hull

Pada dasarnya Hull sangat terpengaruh dengan teori evolusi Charles Darwin. Semua fungsi tingkah laku bermanfaat, terutama untuk menjaga kelangsungan hidup. Oleh karena itu kebutuhan biologis dan pemuasan biologis itu menempati posisi sentral.

Meskipun respon akan bermacam-macam bentuknya. Implikasi praktisnya adalah guru harus merencanakan kegiatan belajar berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap motivasi belajar yang terdapat pada siswa.

Dengan adanya motivasi maka belajar merupakan penguatan. Makin banyak belajar, makin banyak pulalah reinforcement, makin besar pula motivasi memberikan respon yang menuju kepada keberhasilan belajar.

Teori behavioristik ini dalam perkembangannya mendapat kritik dari para teoritisi dan praktisi pendidikan. Menurut para kritikus, teori behavioristik ini tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak hal di dunia pendidikan yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus respon.

Tidak selalu stimulus mampu mempertahankan motivasi belajar yang mengarahkan berpikir linier, konvergen dan kurang kreatif, termasuk masalah shaping (pembentukan) yang cenderung membatasi keleluasaan untuk berpikir dan berimajinasi.

Misalnya seorang siswa mau belajar giat setelah diberi stimulus tertentu, akan tetapi karena satu dan lain hal maka dia tidak mau belajar lagi padahal kepadanya sudah sudah diberikan stimulus yang sama atau lebih baik dari itu. Hal-hal semacam inilah yang dianggap tidak mampu dijelaskan, alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon atau mengganti stimulus dengan stimulus lain sampai kita mendapatkan respon yang diinginkan belum tentu dapat menjawab pertanyaan yang sebenarnya.

No comments:

Post a Comment